Thursday, September 20, 2012

Bulan Titik Titik

Hampir sebulan.
Sebulan sama artinya dengan satu kali ketemu langit gelap, yang bulannya baru mau muncul setitik. Satu kali ketemu purnama. Satu kali ketemu bulan yang mati lagi, dibunuh Gorgon.

Post-it kuning dan post-it hijau bersaing banyak-banyakkan siapa yang paling populer di dinding kamar baru. Si kuning menang karena saat butuh, dia kelihatan terus di tempat pensil. Padahal mereka berdua sama saja. Jarang kasih kabar baik kalo saya bakal pulang ke rumah. Ke Mama dan Bapak.

Atau gara-gara nonton Into the Wild semalam, mentang-mentang hari ini masuk jam 2 siang. Dan hampir nangis, air mata udah muncul di ujung-ujung kelopak, sedih gara-gara McCandless mati sendirian saat dia tau kebahagiaan itu adalah saat bersama-sama. Dengan Mama McCandless dan Bapak McCandless.

Hampir sebulan.
Mungkin satu bulan itu titik. Satu buah bulan itu titik di langit, di galaksi, di angkasa, di semesta yang luas. Satu bulan itu titik kangen sama bantal jelek yang isinya udah sering keluar tapi empuk. Titik kangen sama dinding kamar dan jendela yang menghadap ke kebun belakang. Titik kangen muter kaset-kaset di radio lama yang suaranya masih bagus sambil tidur-tiduran di lantai. Titik kangen tidur sama Mama dan Bapak kalo lagi ketakutan abis nonton film yang rada horor malem-malem atau abis baca Murakami dan jadi kepingin bunuh diri.

Rasanya saya gak kuat ngeliat purnama baru lagi. Liat bulan hilang pelan-pelan dan muncul pelan-pelan juga. Ada kalanya asik ngeliat purnama, kalau itu bukan di Alaska, tapi di rumah... sama mereka.

No comments: