Tuesday, August 07, 2012

Supernova

Kurang lebih sembilan tahun saya menanti supaya saya bisa baca buku ini. Seri ini. Saya yang kelas 3 SD itu dipandang oleh pemilik buku yang saya comot dari rak di rumahnya masih belum mampu menyaring dan mengabstraksi informasi keilmuan dan non-keilmuan, kehidupan dan non-kehidupan, kepercayaan dan non-kepercayaan yang ada di buku ini.
Saya kira sembilan tahun adalah waktu yang tepat. Semakin dalam saya larut dalam buku ini semakin saya menertawakan bayangan di mana saya yang baru berumur sembilan tahun mencoba mencerna intisari dari seorang kesatria, seorang putri, dan seekor bintang jatuh. Apalagi mengerti apa yang bisa dilakukan sepotong akar, sekilat petir, dan segenggam partikel.
Dua hari yang tidak begitu penuh, saya habiskan menggerayangi serangkaian seri Supernova. Dengan urutan yang agak berantakkan karena saya baru bisa ke toko buku di hari kedua. Dalam Akar, saya terkesima bagaimana 'dia' mempertemukan entitas modern ke dalam sesuatu yang penuh makna di luar kebiasaan. Ini kali pertama saya membaca karyanya yang sebegitu lebur, karena yang kemarin-kemarin boleh saya baca baru kumpulan cerita pendek dan kumpulan cerita pendek yang dilengkapi soundtrack serta novel cheesy biasa yang berbeda. Dalam Petir, saya kembali menemukan itu. Dimensi lain yang saya yakin cuma dia yang bikin. Saya lebih suka yang ini karena Elektra begitu manusiawi, kisah-kisahnya segar tapi tetap misterius, memikat. Kali ketiga, barulah saya baca si nomor satu; Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Lengkap dengan otak saya yang terus menerus bekerja, menghapal satu persatu postulat dan paradoks yang muncul di dalam buku, yang saya yakin adalah arena saya untuk belajar tanpa harus diajar. Dalam Partikel, saya menganga selebar-lebarnya. Semua kesukaan saya ada di sini. Partikel adalah literatur yang merangkum segalanya dan meramunya menjadi petualangan yang menggetarkan. Saya kaget dengan perubahan cepat antara travelling, fotografi, orangutan dan jamur menjadi alien dan makhluk ekstraterestrial. Tidak ada benang merah yang pasti antara kesemuanya selain Zarah Amala, yang berjuta pembaca suka namanya tak terkecuali saya. Saya senang membaca percakapan di Stonehenge antara Zarah dengan Simon, rasanya seperti mengulang deretan episode Ancient Aliens yang sudah saya tonton. Saya senang dan tertawa saat Zarah ditemukan memakan jamur enteogen di Bukit Jambul. Tebakkan saya adalah ini semua terinspirasi dari keadaan trippy dan psikedelik saat menyantap cannabis ataupun mushroom, terlepas dari benar atau tidaknya.
Dan terlepas dari semua itu, di dua hari yang tidak begitu penuh ini, saya belajar. Saya belajar semuanya dari kacamata Dimas & Reuben, Ferre, Rana, Diva, Bodhi, Elektra, dan Zarah. Saya belajar dengan kacamata saya yang baru beranjak dewasa muda dan mampu menyerap segala hal dengan penyaringan dan excitement yang kuat. Saya belajar, untuk semua penantian dan rasa penasaran yang tak kunjung padam, yang terakumulasi sembilan tahun lamanya, di waktu yang tepat.

1 comment:

Rae said...

nah, kalo udah kuat baca beginian, coba baca buku-bukunya ayu utami ya, dek.