Sunday, May 15, 2016

di waktu-waktu kaki jadi kepala

kedua kalinya saya kalah.
kira-kira satu tahun yang lalu (sembilan bulan lebih tepatnya),
saya kalah pada kata-kata,
lalu saya kalah pada arah,
pada malam berangin di tanah lapang saya kedinginan.
orang-orang berwarna hijau biru oranye menari-nari,
berulang-ulang,
abu tertiup kena mata, kena sepatu, kena baju,
tempat itu ramai tapi saya sendirian.
saya sudah kalah.

lalu barusan saya kalah lagi.
tapi kali ini saya punya cerita,
karena sebelumnya saya sudah bangun menara.
yang tidak pernah jadi,
karena bagian ujung kepala isinya masih tidak bisa dibeton,
bunga-bunga tumbuh begitu saja,
tidak mau pergi-pergi.
sehingga saat menara itu disentuh sedikit,
semua jatuh lagi menyisakan puing.
karena bunga tumbuh bersama harapan,
membelit dinding-dinding seperti usus,
meremukkan,
menghancurkan.

bukan saja saya kalah pada kata,
pada arah,
pada cuaca,
tapi juga pada bunga,
dan harapan yang selalu salah.

Monday, April 11, 2016

kapanlagi.com

berterimakasih pada jalan-jalan yang akan mampir ke ingatan sampai tahun-tahun ke depan
cheesy sekali tapi kapan lagi hijrah dari martabak satu ke martabak lainnya dalam satu waktu makan
pindah ke tempat seblak yang katanya paling enak, ke tempat bubur yang nyendoknya pakai gentong, ke tempat duapuluhempat jam yang punya menu indomie telur asin, ke aa bistik, lalu belok ke cibadak
tapi kapan lagi whatsapp-an sama sous chef restoran hawaii untuk booking menu dan kedatangan
tapi kapan lagi duduk-duduk di capitol, dengan tipis kering pandan yang sudah lama habis dan tempat pinggir jalan yang sudah mau tutup tapi masih ketawa-ketawa ngomongin orang, tempat, suasana, lagi-lagi makanan, lalu perasaan-perasaan

dan jalan-jalan lainnya
di dini hari saat bandung sedang dingin-dinginnya
menunggu perkedel di depan tungku yang bikin hangat sejadi-jadinya

jalan-jalan yang jauh juga
dan semuanya
sama-sama semuanya

mesti lekat-lekat disimpan di ingatan
mesti bersyukur terus punya teman-teman
dari smp, sma, jurusan, yang beda-beda lingkaran

mesti ditulis dulu,
karena kapan lagi?

Sunday, February 21, 2016

akhir-akhir ini pada perasaan akhirnya

mau mati rasanya disuguhi pengalaman-pengalaman mendebarkan di dua minggu belakangan. Tuhan lagi murah hati. saya dikasih tau orang-orang hebat, dikasih kenal. saya dikasih belajar supaya tambah pintar. saya dikasih naik turun satu tahun ke belakang, enam bulan ke belakang, banyak turun biar saat naik saya jadi bisa tau pijakan. mau mati mungkin sinonim dengan mau nangis.

terimakasih banyak untuk banyak-banyak orang yang entah bagaimana saya tahan untuk sekedar ada, di barat laut maupun di tenggara. dua pengalaman yang sama berharganya tapi sebenarnya beda. mungkin memang tidak bisa kalau tidak dari hati, segalanya, seluruhnya. memimpin, membagi, menulis, memilah, memberi, mengerjakan, segalanya.

tingkat empat yang sama sekali tidak mampat.