Sunday, May 15, 2016

di waktu-waktu kaki jadi kepala

kedua kalinya saya kalah.
kira-kira satu tahun yang lalu (sembilan bulan lebih tepatnya),
saya kalah pada kata-kata,
lalu saya kalah pada arah,
pada malam berangin di tanah lapang saya kedinginan.
orang-orang berwarna hijau biru oranye menari-nari,
berulang-ulang,
abu tertiup kena mata, kena sepatu, kena baju,
tempat itu ramai tapi saya sendirian.
saya sudah kalah.

lalu barusan saya kalah lagi.
tapi kali ini saya punya cerita,
karena sebelumnya saya sudah bangun menara.
yang tidak pernah jadi,
karena bagian ujung kepala isinya masih tidak bisa dibeton,
bunga-bunga tumbuh begitu saja,
tidak mau pergi-pergi.
sehingga saat menara itu disentuh sedikit,
semua jatuh lagi menyisakan puing.
karena bunga tumbuh bersama harapan,
membelit dinding-dinding seperti usus,
meremukkan,
menghancurkan.

bukan saja saya kalah pada kata,
pada arah,
pada cuaca,
tapi juga pada bunga,
dan harapan yang selalu salah.

No comments: