saya juga pernah menjadi salah satu dari sebagian orang itu, merasa definisi adalah batas, maka setiap dihadapkan pada kolom biodata di akun social media saya akan entah mengosongkan atau mengisi kolom tersebut dengan hal lain yang tidak berkaitan dengan data diri saya; seperti lirik lagu, misalnya. cheesy memang, tapi saya berpendapat pengisian kolom biodata untuk kemudian dibaca orang-orang bukan merupakan hal yang wajib lagipula tidak akan ada yang mempermasalahkan keberadaan biodata di akun-akun jejaring sosial.
namun semakin sering saya melihat orang-orang, tanpa sadar mendefinisi mereka, lalu membandingkan dengan diri saya sendiri, saya tersadar betapa definisi datang dengan sendirinya seiring pemahaman yang saya dapat tentang dunia dan orang lain. mengenal diri sendiri lewat orang lain.
entah karena penduduk dunia yang sudah berjumlah bilyunan atau karena saya kelewat biasa dalam bidang apapun, definisi yang pertama muncul tentang diri saya sendiri adalah: rata-rata. commoner. saya bisa melakukan macam-macam tapi banyak yang bisa melakukan macam-macam itu lebih pro dari saya. saya bisa mencipta satu-dua alinea tapi banyak yang bisa menjalin kata hingga satu artikel penuh yang ditulis di majalah berukuran 30x25cm dengan font ukuran dua belas. saya adalah rata-rata. saya terlalu rata-rata.
definisi yang saya punya, bagi saya bukan menjadi batas. tapi adalah kesadaran akan tempat apa yang saya punya di dunia ini sebagai rata-rata, sebagai orang kebanyakan. lalu semakin saya sadar bahwa sedikit sekali yang bisa dibanggakan dan dirasa istimewa dari seorang saya, semakin mudah saya mendapat definisi lainnya, yang membuat definisi pertama bukan merupakan reduksi, apalagi sarana depresi: saya adalah rata-rata yang bahagia.
No comments:
Post a Comment